Pemandu setia

Maret 2, 2008

664a8b3b00a41d4b.jpg
Perjalanan hidup seseorang itu seperti seorang buta dengan
pemandunya. Sibuta sangat percaya pada pemandunya
tidak akan mencelakakan dia dan jika lelah mereka duduk
sambil cerita lalu jalan lagi sampai tujuan. Itulah ilustrasi
hidup kita dengan Tuhan. Apa pun pilihan kita
penyertaanNya tetap.
Tulisan : Ibu Rika Wangkay
Repost : Administrator

Dua manusia super

Februari 26, 2008

Siang ini tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan , dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan,

“Terima kasih Oom !”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka . Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu , duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut langit Jakarta .

” Terima kasih ya mbak …semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

” Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

” Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka . Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .

“Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata

“Ambil saja kembaliannya , dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang

“Sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.

“Maaf mbak , cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar

” Om , bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !”.

“Eeh ….nggak usah .nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya ,

“Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar”

“Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya .

“Jangan …jangan oom , itu uang oom sama mbak yang tadi juga ” anak itu bersikeras.

“Sudah …saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

“Ini deh om , kalau kelamaan , maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack tissue.

Buat apa ?”, saya terbengong

“Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu” . Walau dikembalikan ia tetap menolak .

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya . Beberapa saat saya mematung di sana , sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

“Terima kasih Om !”..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan,

“Duit mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut,

“Lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….” . Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan.

Tuhan …….Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh , mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra , mereka tahu hak mereka dan hak orang lain , mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia.

Who’s the best?

Februari 26, 2008

There’s so much focus in the media and in individual conversations about who is the most beautiful, most successful, best dressed, or most powerful or influential. Implicit is that there is only one best. It’s as if everyone in the world were stacked in a vertical pile, with the best person on top all the way down to the least valuable person. It’s easy to get caught up in such a mind-set and then feel that you’re not of value because you’re way down in the pile.

But one way out of that feeling is to ask, “What if everything were the color blue?” How dull would that be? That’s what I asked myself one day while wrestling with thoughts of being unworthy. I’d been comparing myself to a powerhouse of a woman. And there was no comparison. She was brighter, more productive, more of every good thing than I was. Or so it seemed. The comparison left me flat.

Many of us have had to face this sort of personal put-down. In the past whenever these feelings came to me and made me unhappy, a trusted friend would say, “Those are not your thoughts.” Finally I understood what he meant, and that has helped me move beyond those feelings of being unworthy. He was telling me that those thoughts had their roots in a distorted view of myself, as not being created by God. Therefore they had no validity.

My friend’s comment made me realize that I’d been looking in the mirror of the world to see who I was. Soaking up a limited and material view of what it is to be worthy, I was believing a lie about myself.

The Bible offers a different mirror. The first chapter of Genesis describes how God created everything. It records that He made man, and not just one best man in His image and likeness, but a whole species of “best,” that includes both male and female. Later, after His creation was complete, God looked at what He had created and saw it was “very good.”

God’s spiritual creation is not a vertical top-to-bottom, best-to-worst creation, but is, in a way, horizontal. Each identity is of the same value – perfect and in a glorious array – presenting the infinite variety that is God’s man. Each has an individuality made up of talents and a full measure of wonderful qualities of character. So each has a place and purpose and is needed for the full presentation of God.

To be the image and likeness of God is to be wonderful. God is Spirit, so His image must be spiritual. Consequently, each of us has a spiritual identity that reflects the completeness, perfection, and glory of God. Writing about this creation in her book “Science and Health with Key to the Scriptures,” the author, Mary Baker Eddy, said, “All that God imparts moves in accord with Him, reflecting goodness and power” (p. 515).

Much of the Bible’s message shows that the facts of our spiritual identity are practical here and now. God is always sending us thoughts that correct the lie that we’re something other than His creation and that show us the wonder of what He made us to be. God is pleased with us. Knowing this inevitably brings satisfaction and peace. And there’s more. That assurance of being valued by God shines through our thinking and acting. Others naturally respond positively. Things change. New friendships develop. New opportunities surface. Life takes on freshness and joy.

So, back to the earlier question: “What if everything were blue?” Blue without any color variation would be boring. And the color spectrum without blue’s tones and complementing hues seems inconceivable. The same could be said of every color. Like the colors, each of us is significant to a complete creation because of our own individual contributions and as we complement the work of others.

We are each important to God. Recognizing who we are as witnesses to God and seeing ourselves in that light free us from the lies that say we’re not good enough. Doing so frees us to be the wonderful creation that God made us to be.

Jesus Alphabet

Februari 26, 2008

A: He is Adam, Advocate, Anointed, Apostle, author, Amen,
Alpha, Ancient of Days

IA-lah Adam, Pembela Yang Diurapi, Rasul, Pencipta, Amin, Alfa, Yang Lanjut Usiannya
B: He is The Beginning, The Begotten, Beloved, Branch, Bread of Heaven, Bridegroom, Bright and Morning Star, Brightness of the Father’s Glory
IA-lah Awal, Yang Diperanakan, Kekasih, Ranting, Roti Sorga,
Pengantin Laki-Laki, Bintang Fajar, Terang, Cahaya Kemuliaan Bapa.
C: Captain, Consolation, Chief, Cornerstone, Counsellor, Chosen of God, Christ
Pemimpin, Pengiburan, Kepala, batu Penjuru, Penasihat, Yang Dipilih Tuhan, Kristus
D: He is the Daysman, Delivever, Dayspring, Daystar, Door, Desire of All Nations
IA-lah Wasit, Pelepas, Fajar, Bintang Fajar, Pintu, Kerinduan Segala bangsa
E: He is the Elect, Ensign, Everlasting Father, Emmanuel
IA Yang Terpilih, Lambang, Bapa Abadi, Imanuel
F: He is the Finisher of Our Faith, Forerunner, Friend, First Fruits, Faithful Witness, Fountain of Life
IA Penyempurna Iman kita, Perintis Jalan, Teman, Buah sulung,
Saksi Yang Setia, Mata Air Kehidupan
G: He is God, The Gift of God, Governor, Guide, Glorious, Lord
IA Tuhan, Pemberian Tuhan, Pemimpin, Penuntun, Tuhan yang Agung
H: He is our Help, Hope, Husban, Horn of Salvation, Hearer, head Of the Church, heir of All Things, High Priest, Hell’s Dread, Heaven’s Wonder, The Holy One
IA Penolong kita, Harapan, Suami, Tanduk Keselamatan, Pendengar, Kepala Gereja, Pewaris, Imam Tertingi, Ditakuti Neraka, keajaiban, Surgawi, Yang Maha Suci
I: He is I AM, Inheritance, Image of God’s Person, Immortal and Invisible
IA-lah AKU, Pewaris, Gambaran Allah, Abadi dan tak kelihatan
J: He is Judah, Judge, The Just one, Jesus
IA-lah Yehuda, hakim, Yang Adil, Yesus
K: He is King, King of Israel, King of King, King of Glory, King Everlasting
IA-lah Raja, Raja Bangsa Israel, Raja Segala Raja, Raja Kemuliaan, Raja Kekal
L: He is Life, The Light, Love, Lily of the Valley, Lion, Lamb,
Lawgiver, Living Stone, The Lord of Glory
IA-lah Hidup, Terang, kasih, Bunga bakung, singa, Anak Domba,
Pemberi Hukum, Batu Hidup, Tuhan yang Agung
M: He is Messenger, Mediator, Master, Messiah, Mighty God
IA Pembawa Berita, Perantara, Guru, Mesias, Tuhan Yang berkuasa
N: He is Nazarene
IA orang Nazaret
O: He is the Offspring of David, Omega, Only Bagotton of God, Offering and Offerer
IA Keturunan Daud, Omega, Putra Tunggal, Persembahan dan Yang Dipersembahkan
P: He is Priest, Passover, Potentate, Prophet, Propitiation, Prince of Life, Prince of Peace, Physician
IA Imam, Paskah, Penguasa, nabi, Pendamai, Raja Hidup, Raja Damai, penyembuh
R: He is Righteousness, Rabbi, Ransom, Rest, Root of Jesse, Root of david, Refiner, Refuge, Resurrection, Rose of Sharon, Redeemer, Rock of Ages, Ruler
IA Kebenaran, Rabi, Menebus, Tumpuan, Turunan Isai, Turunan Daud, Yang Memurnikan, Tempat Perlindungan, Kebangitan, Mawar Saron, Penebus, Batu Karang yang Kekal, Penguasa
S: He is The stone, Shepherd, Son of God, Son of Man, Shield, Servent, Seed of the Woman, Surety, Sufferer, savior, sinless Sacrifice, Sanctifier, the Same yesterday, and today and forever
IA Batu Karang, Gembala, Anak Allah, Anak Manusia, Perisai, Pelayan, Benih Perempuan, Penjamin, Yang Menderita, Penyelamat, Korban yang Tak Berdosa, Pengudus, Yang Tidak Pernah Berubah, kemarin, sekarang dan selamanya
T: He is Teacher, Truth, Tebernacle, Treasure, Tree of Life
IA Guru, Kebenaran, Kemah Suci, Harta, Pohon Kehidupan
W: He is Witness, The Word, The Way, The Wisdome of God, He is Wonderful
IA Saksi, Firman, Jalan, Hikmat Allah, IA Luar Biasa

Mrs. Mary Hartman’s Poem Corner

Repost. Administrator

Bacaan Tambahan

Februari 24, 2008

DITINGGALKAN ALLAH
“Suatu perasaan akan kehadiran Allah.” Ini [adalah] satu di antara pasal-pasal yang paling menggentarkan di dalam seluruh Alkitab, yaitu di mana Yesus, pada saat Dia digantung di atas salib, berteriak, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46; Mar- kus 15:34). Di bagian luarnya kata-kata ini menunjukkan bahwa di saat kebutuhanNya yang pa- ling dalam Yesus ditinggalkan oleh Bapa yang telah menjadi tempat menaruh kepercayaan sede- mikian rupa. Orang-orang Kristen yang saleh dan sungguh-sungguh selalu menemukan kata-kata ini sangat sulit, dan penggalian terhadap ayat-ayat yang memuatnya [bnd. Mzm 22] telah mema- kai nada ingin tahu.
Beberapa orang merasakan ini “suatu perkataan yang sulit”, memang benar, terlalu sulit untuk diterima. Mereka telah mencari perlindungan dalam perbedaan antara apa yang dirasakan seseo-rang dan apa yang benar-benar terjadi. . . . Kita semua tahu apa artinya merasa terpencil. Setiap orang menentang kita, kita pikir, dan Allah tidak peduli. Tetapi kemudian setelah saat-saat paling buruk berlalu dan kita dapat berpikir dengan lebih jelas, kita menyadari bahwa semuanya ini ha- nya khayalan, bahwa sebenarnya Allah mempedulikan kita dan bahwa kita tidak seharusnya me- makai perasaan kita di saat-saat kita yang paling buruk, seakan-akan memberikan suatu catatan akurat mengenai kenyataan dari situasi itu.
Namun apakah kita dibenarkan dalam memakai kesalahpahaman kita terhadap segala kesulitan kita sebagai petunjuk akurat terhadap pemikiran Yesus pada waktu kematianNya? Tampaknya ti- dak ada alasan untuk ini. Kita tidak dapat berkata bahwa karena kita begitu mudah menjadi lemah dan salah sangka, inilah yang terjadi pada diri Yesus. Kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa di dalam perkataan ini pun Yesus berbicara mengenai Allah-“ku”; keyakinanNya tetap nyata dan teguh. Pada waktu Dia ditinggalkan itupun Dia dapat berkata tentang Allah sebagai AllahNya
sendiri. Dan yang penting bagaimanapun Dia tidak mengumpat atau mengkritik Allah. Kata-kata itu adalah kata-kata kebingungan, tetapi juga merupakan kata-kata yang menyatakan kepercaya- an. Tentunya Yesus sedang memandang dengan mata tajam pada apa yang sedang terjadi, dan untuk mengatakan bahwa Dia telah benar-benar salah mengerti akan situasi itu, tidak dapat dije- laskan sama sekali. Malahan tampaknya kita lebih banyak salah paham terhadap Dia dibanding- kan Dia salah paham terhadap Allah. [ . . . ]
Itu tidak berarti bahwa Yesus berhenti mempercayai Bapa. Teriakan yang sebenarnya “Allah- Ku” dengan kata ganti empunyanya “Ku” menghubungkan Orang yang mengucapkannya dengan Allah yang telah meninggalkanNya. Dia mempunyai iman yang teguh dan tabah terhadap Allah, sekalipun Dia tahu Allah telah meninggalkanNya. Kosuke Koyama [seorang teolog Jepang] me- ngutip Luther, “Dia melarikan diri kepada Allah terhadap Allah! O iman yang teguh! [ . . . ]
Mungkin kita harus mengerti keadaan ditinggalkan itu sebagai perwujudan murka Allah ter- hadap segala kejahatan, murka yang ditanggung Kristus di dalam kematianNya yang menyela- matkan. Alan Richardson mengutip Markus 15:34 sebagai salah satu di antara pasal-pasal yang membenarkan dia dalam berkata, “Salib Kristus adalah sesuatu yang kelihatan, wahyu historis mengenai orge tou Theou: itulah wahyu yang teragung tentang murka Allah terhadap segala kefasikan dan kelaliman manusia” (ayat-ayatnya yang lain adalah Roma 1:18, II Korintus 5:21) [kutipan dari Leon Morris, Salib Yesus, terj. (Malang: SAAT, 1991), hlm. 80ff.].

MENGAPA ENGKAU MENINGGALKAN AKU
AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? — Matius 27:4
Allah ditinggalkan Allah? Bagaimana kita bisa mengerti misteri agung ini? Kita tidak dapat mengerti. Meskipun membingungkan, Roh Allah memberi kesaksian kepada roh kita bahwa hal itu benar.
Tidak pernah ada dalam pelayanan Tuhan kita saat Dia sangat sadar akan ketidakhadiran Bapa-Nya. Dia tahu Bapa-Nya selalu dekat, selalu terlihat dan selalu mendengarkan-Nya. Namun, seka- rang situasinya berbeda. Dia ditinggalkan oleh Teman abadi-Nya. Dan bagaimanpun Dia tahu hal ini benar — memang harus seperti itulah adanya. Karena pada jam-jam seperti itulah Kristus, yang tidak mengenal dosa, dibuat berdosa untuk kita. Dan Allah, yang mata suci-Nya tidak bisa melihat kejahatan, tidak dapat melihatnya.
Selama tiga jam yang panjang dan gelap itu, Yesus mengalami siksa kutuk. Dari semua sik- saan itu tidak ada yang lebih besar ketimbang kesadaran bahwa Dia terpisah dari Bapa-Nya. Hal ini berarti ada tanpa damai, sukacita, dan harapan. Hal ini berarti menderita penderitaan, rasa ber- salah, dan pengutukan diri yang datang dari kesadaran bahwa Allah tidak senang melihat Anda. Dan begitu dalamnya penderitaan itu menusuk hati-Nya yang pernah mendengar Bapa-Nya ber- kata, “Inilah anak yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”
Ya, tali-tali maut telah menjerat-Nya (Mzm 116:3). Namun Allah telah menjanjikan pembe- basan, meskipun janji itu baru terwujud saat Yesus minum dari cawan maut yang menanggung dosa kita.
Dia menjerit penderitaan, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Menyediakan jawaban bagi ucapan syukur kita, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau menerima Aku?” Marilah kita berhenti sejenak untuk mengucap syukur kepada-Nya . . .
[kutipan dari Renungan Malam, Tujuh Ucapan Yesus di Kayu Salib, terj. (Yogyakarta: Andi, April 2001), hlm. 18].

Informasi: Yang satu ini, adalah puncak yang paling tinggi dan sekaligus dasar yang paling dalam dari semua
penderitaan! Topnya semua penderitaan! Yaitu: konsekuensi atau akibat yang paling fatal dari dosa!
Apa itu? Tidak lain adalah: keterpisahan dan keterasingan dari Allah. Dosa tidak lain adalah meninggalkan
Allah. Karena itu akibat dosa yang paling hebat adalah: ditinggalkan oleh Allah!
Semua bentuk penderitaan yang lain tidak membuat Yesus berteriak. Tetapi ketika yang satu ini Ia alami, Ia
berteriak menyayat hati: Eloi, Eloi, lama sabakhtani!
Dan ingat, Ia sampai berteriak begitu, adalah karena kita. Ia yang tidak berdosa telah dijadikan berdosa ganti
kita, karena kita, sebab kita! Supaya apa? Supaya kita tidak perlu lagi mengalami apa yang Ia alami.
Teriakan Yesus pada hari Jumat siang itu, dari satu sudut, memang sudah merupakan sejarah. Sudah lewat.
Sudah lalu. Tetapi dari sudut lain, teriakan itu sebaiknya kita dengar terus seperti bunyi sirene tanda bahaya!
Ya, tanda bahaya!
Tanda bahaya apa? Bahaya dosa! Yaitu betapa fatalnya akibat dosa itu! Yesus saja sampai berteriak ketika
mesti mengalaminya! Teriakan itu ibarat bunyi sirene yang mau mengingatkan kita: Awas dosa! Jangan pan-
dang enteng dosa! Jangan main-main dengan dosa! Ingat akibatnya!
Dosa itu kadang-kadang memang enak. Enak saja kita meninggalkan Allah. Tetapi ingat, eling, apa akibatnya
kalau kita ditinggalkan Allah! Ini tidak main-main. Yesus saja sampai berteriak: Eloi, Eloi, lama sabakhtani! Be-
lum pernah ‘kan Dia berteriak sepedih itu? [kutipan dari Eka Darmaputera, Jalan Kematian, Jalan Kehi-
dupan (Jakarta: BPK-GM, 2003), hlm. 32f.].
Did God actually forsake Jesus? (27:46)
The divine and human natures of Jesus were never separated, even during the crucifixion. Yet it is clear,
difficult as it is to explain, that Jesus’ intimate fellowship with God the Father was temporarily broken as he
took the sin of the entire world on himself. Jesus used the words of Psalm 22, which begins with despair but
ends with renewed trust in God [kutipan dari Quest Study Bible (Grand Rapids, Michigan: Zondervan,
2003), p. 1432].
– – – NR – – –

Toko Grosir Surga

Februari 24, 2008

Suatu hari dalam perjalanan hidup saya,saya melihat sebuah papan bertuliskan, “Toko Grosir Surga”.Ketika saya berjalan dan hendak masukke toko itu, pintu segera terbuka dengan begitu lebar.Sementara saya berdiri dalam kebingunganketika berada dalam toko tersebut,saya melihat banyak malaikat yang berdiri dimana-mana.Salah satu dari mereka memberikan keranjangbelanja kepada saya sambil berkata,”Anakku, berbelanjalah dan pilih apa sajayang engkau mau, semua kebutuhanmanusia tersedia di toko ini danjika engkau tidak bisa membawa semuabelanjaanmu, engkau boleh kembali lagi kesini.”Pertama-tama saya mengambil KESABARANdan KASIH, karena keduanya berada di rak yang sama.Dibawah rak itu saya melihat PENGERTIANdan saya pun mengambilnya. “Kau selalumemerlukannya dimanapun kau pergi,”kata malaikat yang ada di depan saya.Saya mengambil 2 kotak KEBIJAKSANAAN dan sekantong IMAN.Saya juga tidak melupakan ROH KUDUSkarena itu terletak di setiap tempat di dalam toko itu.Saya berhenti sejenak untuk mengambil sebungkusKEKUATAN dan KETEGUHAN HATI untukmenolong dan memampukan saya melaluiperjuangan hidup ini. Meskipun keranjang saya sudah penuh,tetapi saya teringat bahwa saya membutuhkan ANUGERAH.Saya juga tidak melupakan KESELAMATANkarena saya tahu itu merupakan barang yang gratis di toko tersebut.Saya mengambil lebih, agar bisamembagikannya kepada orang lain yang membutuhkannnya.Saya berpikir, “ini kan cuma-cuma.”Keranjang saya kini benar-benar penuhdan saya berjalan ke kasir untuk membayar belanjaan.Saya berpikir, “Dengan semua yang saya beli,saya pasti bisa menyenangkan Tuhan saya.”Di depan kasir saya melihat DOA dantanpa menunggu lebih lama saya segeramengambilnya karena saya tahu tanpaDOA saya akan segera jatuh dalam pencobaan.DAMAI dan SUKACITA adalah dua halpenting yang hampir saya lupakan. Sayasegera mengambil satu keranjang keciluntuk keduanya dan untuk NYANYIAN PUJIAN.Pada akhirnya saya berkata kepadamalaikat, “Sekarang berapa yang harus saya bayar?”Ia hanya tersenyum dan berkata, ” Kamu tinggal membawanya saja.”Sekali lagi saya bertanya dalam kebingungan,”Sungguh, berapa harga semua ini?”Ia tersenyum dan berkata, “Anakku,bertahun-tahun yang lalu Yesus telahmembayar semuanya untuk mu.”Aku terharu, aliran-aliran beningmembanjiri mataku.Di dalam Iman semuanya sudah tersediabagi kita yang percaya kepada YESUS.Kita tinggal mengambilnya kapan danberapa banyak yang kita mau.Alkitab berkata bahwa Ia datang supayakita memiliki hidup dan mempunyainyadalam segala kelimpahan. DIA menjadimiskin agar kita kaya dalam segala hal.Saat ini “Toko Grosir Sorga” masih terbuka,dan YESUS mengharapkan agarkita semua datang dan menikmati hasildari pengorbananNYA. (MANNA SORGAWI no.99 tahun IX)Jika anda merasa diberkati denganrenungan ini, tolong kirimkan kepadaorang-orang yang anda kenal supayaberkat itu selalu mengalir
Bagaimana membuat seseorang  dapat dihargai dalam suatu pergaulan .. dimana dengan hanya berjalan tanpa berbuat apa apapun orang sudah memandang dan suka kepada anda…
Menurut fikiran saya beberapa hal yang harus kita lakukan  dalam diri untuk menambahkan, sikap kharisma anda dan mempunyai banyak teman adalah…
1. Ramah dan murah senyum (Semua orang akan merasa senang bila kita tersenyum, tidak percaya coba deh)
2. Ihkhlas dan jujur
3. Merendah diri dan berbudi bahasa yang santun
4. Jangan sombong
5. Senang Membantu
6. Jangan Memanfaatkan Kebaikan Orang lain
7. Pandai Membawa diri… dan sifat “cair” atau mudah menyesuaikan diri dalam keadaan apapun
8. Menghargai dan Menghormati sesama tanpa memandang siapa lawan bicara kita
9. Tanamkan sifat kasih sayang dengan sesama
10. Percaya diri
Merubah sikap kita dengan mencoba seperti yang saya coba ungkap kan diaatas adalah untuk kepentingan kita sendiri. Karena dalam kehidupan ini akan berlaku azas timbal balik…. jika kita ingin dihargai dan dihormati kita harus memulai menghormati orang lain dahulu…
Ayo hargai diri kita.. jangan mengharap orang lain menghargai kita… sebelum kita menghargai diri kita sendiri dan menghargai orang lain…
“Bagaimana kita memperlakuakan orang lain, sama dengan kita kita diperlakukan orang lain”
GBU
Christ Irdayanti